1. Gua Lourdes Ina Maria Nai Feto Malaka- Tubaki

Gua ini sudah menyejarah bagi umat Katolik di Rai Malaka kurang lebih seabad lamanya. Dahulu kala di depan Gua Maria Lourdes Tubaki berdiri sebuah gedung Gereja mini dengan Pastoran yang puing-puing bangunan tua itu tahun 2000 masih nampak  fondasinya meski sudah terhempas rentang zaman.

Posisinya di lereng bukit karang yang tidak begitu jauh dari sumber air Tubaki.  Jarak  dari Betun sekitar 2,5 km dan  ruas jalan rayanya sudah  hotmix.  Lingkungan sekitar Gua tampak rindang dan terasa sejuk. Gua tersebut selama ini selain menjadi tempat berdoa bagi umat Katolik di Malaka juga menjadi tempat berziarah bagi umat dari luar Malaka.

Tradisi umat Katolik di Malaka biasanya pada setiap tahun genap minggu ke empat dalam bulan Oktober  segenap umat Katolik merayakan Perarakan Besar (Prosesi Patung Bunda Maria yang dalam bahasa Tetun lebih populer dengan sebutan Haman Ina Maria Nai Feto Malaka) menuju Gua Maria Lourdes Tubaki.

Dalam formasi iring-iringan berjalan kaki di bawah terik Matahari ribuan umat bergerak dari Gereja Paroki Betun menuju  Gua Lourdes Ina Maria Nai Feto Malaka Tubaki  sambil berdoa dan bernyanyi.

Prosesi ini berpuncak  pada 31 Oktober dan diakhiri dengan Perayaan Kurban Misa  dipimpin oleh Yang Mulia Bapak Uskup Atambua.

2. Prosesi Patung Bunda Maria

Kegiatan perarakan besar Patung Bunda Maria Nai Feto Malaka diselenggarakan 2 tahun sekali tepatnya bulan Oktober jatuh pada tahun genap. Prosesi patung bermula dari paroki betun dan beranjak dari stasi ke stasi (kelompok umat yang terdiri dari beberapa lingkungan), kemudian prosesinya berlanjut ke paroki berikutnya.

Setelah patung Bunda Maria berkeliling di semua paroki dalam wilayah Dekenat Malaka, selanjutnya pada akhir oktober diterima kembali di paroki Betun. Saat itu umat dari semua paroki sudah memadati kota Betun.

Berbagai kegiatan lomba seni budaya dan pertandingan olahraga dilakukan sambil menunggu hari puncak seluruh umat Malaka berarak ke Gua Lourdes Tubaki.

Tepat tanggal 31 Oktober Patung Bunda Maria diarak menuju Gua Lourdes Tubaki sambil berdoa dan bernyanyi, terakhir ditutup dengan perayaan misa kudus yang dipimpin Bapak Uskup Atambua.