1. Tafatik Builaran

Tafatik Builaran merupakan salah satu destinasi pariwisata dan sebagai obyek wisata sejarah, yang terletak di desa Builaran Kecamatan Sasitamean.

Berada pada jarak 19 km dari kota Betun  dan dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. Tafatik ini menjadi tempat berdiamnya turunan para Raja  yang beberapa abad  sebelumnya menempati  Ibu Kota Kerajaan Wesei Wehali, yaitu Laran. 

Di Tafatik (Indon: Istana) Builaran terdapat beberapa Tafatik, yakni Tafatik Liurai  Malaka, Tafatik Bot, Tafatik Leon, dan Tafatik Fehan, Tafatik Balibo dan Tafatik Niba-niba. Tafatik-tafatik tersebut menyimpan benda-benda bersejarah zaman kerajaan Wesei Wehali, antara lain Tongkat Raja Liurai Malaka, Samurai Liurai Malaka (Tetun. Surik Ulun Samara), belanga yang berisi telinga manusia, keris, tombak dan benda bersejarah lainnya.

Dalam kompleks istana terdapat makam para raja dan mendiang Nahak Tei Seran – Liurai XI.  Di Tafatik Builaran setiap tahunnya diselenggarakan acara adat ‘Hatama Batar Manaik”, yakni setiap wilayah kesatuan adat mempersembahkan hasil panen jagung kepada Raja Liurai.

2. Tafatik Laran

Tafatik Laran semenjak dahulu  menjadi pusat kerajaan Wesei Wehali yang merupakan salah satu kerajaan besar di nusantara dan kerajaan terbesar di Pulau Timor. Letaknya di pinggiran kota Betun, sekitar 700 m jaraknya. Berada pada ruas jalan utama Betun Besikama.

Di Tafatik Laran sampai sekarang masih ditempati beberapa istana, yaitu Tafatik Bot (Tafatik Leko), Tafatik Akar Laran, Uma Tatinis Lolon, Tafatik Manekin, dan Ai Lotuk Laran. Di seputaran Laran terdapat Wematan Maromak yang menjadi tempat mandi Sang Raja Maromak Oan.

Namun jauh sebelumnya sumber air itu disebut Suman tuan Matan tuan Wehali,  dijadikan tempat  ritual “Bereliku” yang pada masanya dikenal sebagai panglima perang  ketika   jayanya Kerajaan Wesei  Wehali.

Tak jauh pula dari Laran, tergeletak Meriam (Tetun : Kilat Inan), Kuburan Mendiang para Raja Wesei Wehali (Tetun: Rate Kukun), Fatuk Lalolet miliknya suku Troi Metan, Knua As (Indon: Kampung di ketinggian), Knua Raik (Kampung di dataran), dan Foho Rai Tolu Klibar Rai Tolu yang sekarang ini menjadi bagian dari kompleks Komunitas Biara Susteran SSPS Betun (menurut sejarah tempat ini pada zaman dulu sebagai pintu gerbang memasuki Ibu Kota Kerajaan  Wesei Wehali).

3. Tafatik Loro Haitimuk

Tafatik (Indon: Istana) Loro Haitimuk berada di desa Haitimuk Kecamatan Weliman, persis di tebing sungai Benenai. Terletak  pada posisi jarak 8 km dari Ibu Kota Kabupaten Malaka. Menjangkaunya dari Betun, hanya membutuhkan waktu kira-kira 5 – 8 menit.

Apabila masuk ke Istana Loro Haitimuk dari arah Utara, maka sudah pasti alur lintasnya adalah melalui Jembatan Sungai Benenai sebagai jembatan terpanjang di Kabupaten Malaka.  Di kawasan istana Loro Haitimuk  terdapat  Tafatik Makbalin,  Tafatik Makbukar, dan Tafatik Baodamatan. Keberadaan Tafatik tafatik tadi didampingi dua suku besar, yakni Suku Laetua dan suku Kliduk.

Tafatik Loro Haitimuk merupakan tempat berdiamnya Ceser. Kendati bertakhta di Haitimuk namun relasinya genealogisnya sangat dekat dengan Raja di Laran.

4. Tafatik Loro Lakekun

Loro Lakekun merupakan salah satu Loro yang ada di Malaka, letak istananya tepat di kaki lereng bukit desa Lakekun Barat berbatasan dengan desa Kamanasa. Jarak dari Betun  kurang lebih  3 km jauhnya.

Pada zaman dahulu, puncak jayanya kerajaan Wesei Wehali setiap kelompok pendatang baru dari arah timur sudah tentu harus melewati Lakekun.

Di Tafafatik ini tersimpan benda-benda bersejarah yang berpautan dengan peristiwa masa lampau Loro Lakekun. Di bagian belakang Tafatik terdapat makam mendiang para Raja.

5. Umametan Loro Dirma

Umametan Loro Dirma memiliki kekhasan tertentu dan keberadaannya bersama jalannya sejarah tempo dulu, sekaligus sebagai salah satu obyek wisata sejarah terletak di desa Sanleo Kecamatan Malaka Timur.

Jarak dari Betun ± 13 km.   Loro Dirma merupakan salah satu  Istana dalam wilayah kerajaan Wesei Wehali berlokasi di bubungan batu karang dengan berpayungkan pepohonan yang rimbun.

Tempat ini masih memegang teguh tradisi yang ditinggalkan para pendahulu istana, penuh keramat, dan penuh tata krama.

Untuk memasuki lingkungan istana, harus melewati  sebuah rumah adat (Uma Tea), dan di bagian puncak, tersedia satu pintu gerbang. Tatkala ada pengunjung baru menapakkan kakinya pada bagian dalam pagar, serta merta penjaga pintu menyentuh tanah dengan jemari tangannya kemudian  memeteraikan pada telapak tangan pengunjung.

Ada beberapa rumah adat penopang utama yang mengitari istana dengan mengemban  tugas dan fungsi masing-masing sesuai tradisi yang berlaku di kawasan Istana.

Rumah-rumah adat dimaksud adalah Uma Makoan fungsinya sebagai Penutur Adat, Uma Tea sebagai tempat persinggahan dan pelayan Istana, Uma Dato fungsinya menyampaikan amanat Raja kepada masyarakat, Uma Makerek Loro Dirma sebagai tempat musyawarah mufakat,  Uma Makbukar berfungsi sebagai kurir, dengan titik sentralnya adalah Uma Metan Loro Dirma dan Uma Maromak. Di depan Uma Makbukar terdapat makam para raja Loro Dirma.

6. Perkampungan Ada Tuaninu

Merupakan perkampungan adat yang masih dipertahankan keasliannya hingga sekarang. Terletak di desa Kusa Kecamatan Malaka Timur. Diperkirakan jauhnya 20 km dari Betun.

Prasarana jalan menuju Perkampunguan Adat Tuaninu masih berupa jalan perkerasan. Parkampungan ini dikelilikngi dengan pagar batu yang tersusun rapi. Di bagian  Barat terdapat pintu gerbang, yang dijaga suku Kapitan Ronda (dawan : arak naneus).

Dalam perkampungan adat Tuaninu tardapat suku-suku yang setiapnya mempunyai fungsi dan peranan tersendiri. Rumah-rumah suku yang ada dalam perkampungan, hingga sekarang menyimpan kekayaan masyarakat Kusa, antara lain uang perak, emas, morten  dan muti. Selain itu tersimpan beraneka  kain adat tradisional (Letros) bermotif dawan Kusa dalam jumlah yang amat banyak.

Dikisahkan juga oleh para sesepuh adat bahwa di perkampungan ini dahulu tersedia tempat peristirahatan Raja ketika berkunjung ke Tuaninu. Masyarakat Tuaninu dikenal ramah dan santun. 

Kebiasaan yang sudah mengakar, pada waktu makan jagung muda perdana setiap tahun, semua warga yang berdomisili di luar Kampung Tuaninu datang ke sana untuk melakukan reuni warga persekutuan  adat Tuaninu.

7. Tafatik Lasaen

Tafatik Liurai Lasaen merupakan komunitas adat yang terdiri dari Tafatik Liurai, Umametan  Maktaen, dan beberapa suku yakni suku utama di antaranya Uma Fau Lulik, Uma Lamodo, Uma Makbukar, Uma Bere Bria, Uma Seran Kwaik, Uma Seran Kiik, Uma Talei, dan  suku-suku penopangnya.  

Tafatik ini berada dalam wilayah Desa Lasaen kecamatan Malaka Barat, yang jaraknya dari Betun ± 16 km.  Perjalanan ke sana menggunakan kendaraan memakan waktu kira-kira  18 menit.

8. Tafatik As Manulea

 Tafatik As Manulea berlokasi di Desa As Manulea Kecamatan Sasitamean dan sesuai namanya Tafatik As Manulea berada pada suatu perbukitan tinggi. Berjarak  sekitar 22 km dari kota Betun. Waktu tempuh ke sana berkisar 40 – 50 menit.

Di kompleks Tafatik tersebut, berdiri tegak bangunan Uma Risu sebagai tempat kediaman Raja, dan beberapa rumah suku besar di desa As Manulea.

9. Likurai

Suatu tarian yang diragakan penari wanita dengan memukul Gendang sambil maliukkan badan ke kiri dan kanan. Para penari mengenakan pakaian adat khas Malaka dengan asesoris adat pada bagian kepala, leher dan pergelangan tangan.

Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun mempunyai arti menguasai bumi. Liku artinya menguasai dan Rai artinya Tanah atau Bumi, tanah air tercinta.  Pelakonannya, para penari wanita memukul gendang dengan gerakan badan yang agak ramai dan lincah.

Sedangkan penari laki-laki meronggeng sambil menghunus samurai lalu diayun-ayun, dan di bagian pergelangan kaki kiri kanan diikat giring-giring. Pada zaman dahulu tarian ini dilakukan untuk mengantar para kesatria (meo) keluar dari kampung, untuk terjun di medan perang dan menyambut kembali para kesatria (meo) ketika pulang perang membawa kepala manusia yang sudah dipenggal.

Sebagai aksi luapan rasa gembira karena para kesatria telah pergi ke medan tempur dan telah kembali ke kampung halaman dengan selamat bahkan membawa bukti kemenangan berupa kepala manusia.

Pada masa sekarang tarian likurai dilakukan untuk menyambut tamu pada acara pemerintahan, acara-acara rohani dan pesta-pesta adat.

10. Bidu

Adalah sejenis Tarian Malaka dengan gerakan yang agak lembut, penari mengoleng-oleng badan dan kepala. Biasanya saat meragakan tarian Bidu, para penari memakai kain adat Malaka serta asesoris-asesoris pada kepala, leher, dan pergelangan tangan.

Selama menari gerakan mengikuti irama musik Raraun/Bereka (sejenis Gitar bertali empat), Viol, dan Lagu Elele bermuatan syair-syair indah.

Penarinya terdiri dari beberapa orang wanita dan laki-laki. Perbandingan jumlah penari wanita lebih banyak dari laki-laki. Tarian ini dilakukan dalam acara menyambut tamu, menyuguhkan sirih pinang, mengantar persembahan, acara pemerintahan, pesta-pesta adat maupun pesta rohani.

11. Musik Suling Bambu

Jenis alat musik tiup yang bahannya dibuat dari bambu tipis. Alat musiknya terdiri dari suling lagu, suling terompet dan suling bass.  Jumlah anggota grupnya berkisar antara 30 sampai 60 orang.

13. Musik Gong

Jenis musik pukul yang ada di Kabupaten Malaka, biasanya dipukul oleh kaum wanita dan diiringi dengan meronggeng yang dilakonkan oleh para lelaki menggunakan giring-giring pada kaki kiri dan kanan, sambil menghunus samurai dan mengayun-ayun.